Lihat Semua : infografis

Perhatikan Kesehatan Mental Remaja Saat Pandemi COVID-19


Dipublikasikan pada 3 years ago , Redaktur: Andrean W. Finaka, Riset : Rosi Oktari / Desain : Chyntia Devina /   View : 50.055


Indonesiabaik.id   -   Ditutupnya sekolah dan dibatalkannya berbagai aktivitas penting, banyak remaja kehilangan beberapa momen besar di kehidupan mereka — dan juga momen keseharian seperti mengobrol dengan teman dan berpartisipasi di sekolahnya.

Para remaja menghadapi situasi baru ini bukan tidak hanya dengan kecewa, namun juga kecemasan dan perasaan terisolasi yang membebani, terhadap perubahan hidup akibat wabah yang secara cepat. 

Menurut analisis data yang disampaikan Unicef, sebanyak 99 persen anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun di seluruh dunia (2,34 miliar) tinggal di salah satu dari 186 negara dengan beberapa bentuk pembatasan gerakan yang berlaku karena COVID-19. Sebanyak 60 persen anak tinggal di salah satu dari 82 negara dengan lockdown penuh (7 persen) atau sebagian (53 persen) – yang jumlahnya mencakup 1,4 miliar jiwa muda.

Menurut data survei Global Health Data Exchange 2017, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kesehataan kejiwaan. Artinya, satu dari sepuluh orang di negara ini mengidap gangguan kesehatan jiwa. 

Untuk data kesehatan mental remaja di Indonesia sendiri pada 2018, terdapat sebanyak 9,8% merupakan prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan untuk remaja berumur > 15 tahun, meningkat dibandingkan pada 2013, hanya 6% untuk prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan untuk remaja berumur > 15 tahun. Sedangkan untuk prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia pada 2013 mencapai 1,2 per seribu orang penduduk.

Saat kesehatan mental remaja tertekan, bisa dilihat tanda-tandanya seperti terlihat tidak bersemangat, nafsu makannya berkurang, pola tidurnya terganggu/susah tidur, dan juga khawatir yang berlebihan.

Yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesehatan mental remaja dengan memberikan pengertian pada remaja untuk bisa menyadari bahwa kecemasannya adalah hal yang wajar. Kecemasan yang dialami remaja adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri.

Mencari informasi yang benar dari sumber terpercaya, mengurangi bermain sosial media, serta membatasi menonton/melihat berita tentang Virus Corona juga bisa mengurangi kecemasan yang dirasakan pada remaja. Sebisa mungkin orangtua bisa menjadi teman berbagi bagi remaja. Berikan ruang bagi remaja untuk terbuka soal perasaan khawatirnya kepada orangtua.

Tidak terlalu sering membicarakan Virus Corona atau dengan mencari pengalihan suasana dengan kegiatan menyenangkan dan hal yang produktif dinilai bisa mengurangi kecemasan dan membuat remaja merasa tidak terlalu terbebani.

Biarkan remaja menghubungi teman-teman untuk jalin komunikasi, berbagi cerita dan bisa melampiaskan apa yang dirasakannya. Dengan begitu, kejenuhan remaja saat pandemi bisa terlepaskan.



Infografis Terkait